Sabtu, 08 Juni 2019

Bertani Itu Menyenangkan, Hasilnya pun Menjanjikan


Robaeli Ndruru, Kenalkan Sayuran Sehat Produk Hidroponik Organik

Bertani Itu Menyenangkan, Hasilnya pun Menjanjikan


Jogja – Mengusung konsep organik milenial, Robaeli Ndruru menjadikan kegiatan bertani menjadi aktivitas yang menyenangkan. Dia mengembangkan teknik micro greens, vertical garden, dan aquaponic.
Jogja – Mengusung konsep organik milenial, Robaeli Ndruru menjadikan kegiatan bertani menjadi aktivitas yang menyenangkan. Dia mengembangkan teknik micro greensvertical garden, dan aquaponic.

DWI AGUS, Jogja
Dewasa ini bertani tak lagi hanya bicara ladang, sawah, cangkul, dan pupuk. Era yang serba canggih saat ini, bertani juga bisa menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan. Pun bagi kawula muda. Perpaduan teknik tanam dan teknologi modern menghadirkan aura dunia pertanian menjadi berbeda.
Inilah yang dilakoni Robaeli Ndruru. Pria kelahiran Nias, Sumatera Utara, ini memiliki pandangan visioner tentang bertani.
Bukan dengan cara konvensional. Robi, sapaan akrabnya, mengembangkan teknik micro greens, vertical garden, dan aquaponic.
“Tujuan saya menarik semua kalangan. Khususnya generasi muda.Agar mau menggeluti pertanian,” ujar Robi di sela pameran pertanian di halaman kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIJ, Rabu (29/5).
“Selain menyenangkan, dari segi penghasilan juga menjanjikan,” tambahnya.
Menarik minat generasi muda untuk bertani memang bukan perkara mudah. Padahal, asal dijalankan secara serius, prospek pertanian cukup cerah.
Tentang organic milenial, suami Idaawati ini menceritakan satu per satu metode yang diusungnya. Aquaponic, misalnya. Merupakan perpaduan aquakultur dan hidroponik. Tak ubahnya mina padi. Namun dikemas dengan cara yang lebih sederhana.
Air dialirkan ke atas tanaman. Filter penyaring diganti dengan boks beriisi tanaman hidprononik atau pot. Akar tanaman inilah yang menyaring kotoran ikan. Air dari boks dialirkan ke wadah pengendapan.
“Sirkulasi ini terus mengalir, sehingga air tetap bersih, ikan sehat, dan tanaman subur,” jelasnya.
Koordinator masyarakat pertanian organik Indonesia wilayah Jogjakarta ini juga meramu dengan pupuk buatannya sendiri. Top D’We.
“Sayur jadi lebih lebat dibanding dengan media tanah. Lalu akar dari sayur juga memberikan suplai oksigen ke air,” katanya.
Dengan sistem itu ikan jadi lebih sehat dan lincah. “Kalau dimasak, daging ikan terasa lebih segar dan manis,” sambung bapak dua anak itu.
Robi telah menerapkan teknik ini dalam skala yang lebih besar. Dia juga membandingkan dengan pola tanam media tanah dalam polibag. Dengan objek tanam buah tomat. Sama-sama tumbuh, tapi yang media tanah tanaman tumbuh stagnan. “Kalau yang aquaponiclebih lebat dedauannya. Buahnya juga lebih lebat. Hasil panen bisa tiga kali lipatnya,” klaimnya.
Aquaponic bahkan bisa dikombinasikan dengan aquarium ikan hias. Dia membuktikannya dengan sebuah foto. Dengan objek akuarium berbentuk kotak. Yang di atasnya tanaman sayuran konsumsi. “Sangat aman. Kalau memang ada kimianya pasti ikan mati,” katanya meyakinkan.
Menggeluti profesinya, Robi beracuan pada sistem pertanian berbasis organic. Sesuai standar nasional Indonesia (SNI) dan standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI).
Kesuksesan yang diraihnya bukan tanpa kegagalan. Robi justru kerap menelan pil pahit. Beragam percobaannya pernah sering gagal. Sejak 2009. Dia sempat kehilangan ikan-ikan miliknya. Menerapkan teknik kolam dengan media terpal. Dua minggu berselang seluruh ikannya mati. Usut punya usut dia salah dalam menerapkan teknik sirkulasi air.
Tak mau berhenti dia terus menggerus kegagalan itu.
Hingga akhirnya dia menemukan ramuan yang tepat. Setelah lima tahun bergelut dengan eksperimen. Sampai 2013. Setelah berhasil dengan aquakultur, sejak 2014 dia mulai merambah hidroponik.
Kegagalan itu bukan tanpa alasan. Maklum, dia tak punya latar belakang pertanian. Juga bukan sarjana pertanian. Dia justru mengawali karir sebagai guru di Palembang.
Empat tahun menjadi tenaga pengajar timbul kegelisahan dalam hati. Dia pun memantapkan hati hijrah menjadi petani. Modalnya nekat. Dan rasa penasaran. Lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma Jogja ini belajar secara otodidak. Lewat buku. Dan rajin bertanya kepada ahli. Serta berguru langsung kepada para petani.
“Seakan jiwa petani benar-benar memanggil. Apalagi orang tua saya juga petani di kebun durian. Dulu sering gagal panen, saya terpanggil untuk memperbaiki dan mencari apa yang salah,” ujarnya.
Gagasan lainnya micro greens. Teknik ini bisa dibilang paling unik. Tanaman sayur dipaksa untuk tidak tumbuh besar. Di pot-pot berukuran kecil.
Ada satu pot yang terharmonisasi indah dengan tanaman berwarna merah dan hijau. Siapa sangka tanaman ini ternyata bayam merah dan hijau.
Sekilas tanaman itu mirip kecambah. Karena ukurannya sangat kecil. Sepanjang sekitar lima sentimeter. “Itu sudah siap konsumsi lho, Mas. Jangan salah, kecil-kecil begitu nutrisinya bisa 10 kali lebih banyak dari bayam yang ukuran besar,” ungkapnya.
Sayuran micro greens bisa menjadi alternatif santapan bagi anak-anak. Dari segi rasa, sayuran ini tidak pahit. Tanaman micro greensjuga bisa menjadi hiasan di sudut rumah. Apalagi jika dipadukan dengan vertical garden. Cukup ditatap dalam sebuah rak bersusun. Ditambah kelihaian dalam memadukan beragam benih dalam satu pot.
Teknik pertanian yang dikembangkan Robi begitu ternyata kurang populer di kalangan petani konvensional dan generasi muda. Menurutnya, pola yang berkembang saat ini masih cenderung mengacu pada hidroponik kimia.
Karena itu dia mengajak siapa pun yang tertarik dengan pola hidroponik organik mengunjungi workshop-nya di Jalan Kaliurang KM 19, Banjarsari, Purwodadi Pakembinangun, Pakem, Sleman. Untuk berbagi ilmu. Untuk mengubah gaya hidup dan pola konsumsi sayuran sehari-hari.
“Minimal tahu apa yang kita makan. Kalau menanam sendiri kanlebih afdol,” ujarnya. (yog/rg)

Load disqus comments

0 comments

DESKRIPSI PUPUK TOP DWE

DESKRIPSI PUPUK TOP DWE
PAL (PUPUK ALAMI LENGKAP) DAN ZPTA (ZAT PENGATUR TUMBUH ALAMI)